Jakarta, seriusnews.id-Kol atau kubis menjadi sayuran populer karena murah, mudah diolah, dan kaya nutrisi. Sayuran ini mengandung vitamin C, vitamin K, serat, kalium, serta antioksidan yang membantu melawan peradangan sekaligus mendukung kesehatan pencernaan.
Selain itu, sejumlah penelitian mengaitkan kol dengan kesehatan jantung, pengendalian gula darah, hingga penurunan risiko penyakit kronis. Namun demikian, tidak semua orang dapat mengonsumsinya dalam jumlah besar.
Pada kondisi tertentu, kol justru bisa memicu gangguan kesehatan. Oleh karena itu, enam kelompok berikut perlu lebih berhati-hati dalam mengonsumsi kol:
1. Penderita gangguan tiroid
Kol mengandung goitrogen yang dapat mengganggu fungsi tiroid, terutama jika seseorang mengonsumsinya secara berlebihan dalam kondisi mentah. Namun, memasak kol dapat membantu mengurangi efek tersebut.
2. Orang dengan diare atau IBS
Kol mengandung serat dan fruktan yang dapat memperburuk gejala diare maupun sindrom iritasi usus besar (IBS). Akibatnya, sebagian orang mengalami gangguan pencernaan setelah mengonsumsinya.
3. Penderita maag atau GERD
Kol dapat menghasilkan gas di saluran pencernaan. Karena itu, kondisi ini sering memicu kembung dan memperburuk gejala pada penderita GERD.
4. Orang yang akan menjalani operasi
Kol dapat memengaruhi pengaturan gula darah. Dengan demikian, sebagian dokter menyarankan untuk membatasi konsumsi kol sebelum prosedur operasi.
5. Pengguna obat pengencer darah
Kol mengandung vitamin K yang dapat memengaruhi kerja obat seperti warfarin. Oleh sebab itu, pengguna obat pengencer darah perlu berkonsultasi dengan dokter sebelum meningkatkan konsumsi kol.
6. Orang yang mudah kembung
Kol mengandung raffinose yang sulit dicerna tubuh. Akibatnya, proses fermentasi di usus menghasilkan gas berlebih yang menyebabkan perut kembung.
Selain itu, orang yang memiliki alergi terhadap sayuran keluarga Brassica seperti brokoli dan kembang kol juga perlu berhati-hati. Sebab, mereka berpotensi mengalami reaksi serupa saat mengonsumsi kol.
Dengan demikian, kol tetap aman dikonsumsi selama seseorang mengatur porsinya dengan tepat dan mengolahnya dengan benar. (nr*)









