Padang Matangkan Langkah Menuju Kota Gastronomi UNESCO 2027, Andalkan Kekuatan Kuliner Multietnis

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 17 Juni 2026 - 11:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kepala Dinas Pariwisata Kota Padang, Yenni Yuliza( poto : padangkita.com )

Kepala Dinas Pariwisata Kota Padang, Yenni Yuliza( poto : padangkita.com )

Kota Padang, seriusnews.id – Kota Padang mempercepat persiapan menuju pengakuan sebagai Kota Gastronomi UNESCO Padang pada 2027. Pemerintah kota menempatkan sektor kuliner sebagai identitas budaya sekaligus penggerak ekonomi yang mampu membawa nama daerah ke tingkat internasional.

Upaya tersebut diarahkan melalui pengajuan ke Jejaring Kota Kreatif UNESCO pada bidang gastronomi. Pemerintah berharap Kota Padang dapat menjadi salah satu wakil Indonesia dalam seleksi menuju tingkat dunia.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Padang, Yenni Yuliza, menjelaskan bahwa gastronomi tidak hanya berbicara tentang makanan, tetapi juga keterkaitan erat antara budaya, sejarah, dan identitas masyarakat.

Menurutnya, gastronomi menjadi bagian penting dari warisan budaya yang selama ini tumbuh dan berkembang di Kota Padang. Karena itu, pemerintah berupaya mengangkat potensi tersebut melalui berbagai sektor agar identitas kota sebagai pusat gastronomi semakin kuat.

Kuliner Padang Tumbuh dari Akulturasi Empat Etnis

Kekuatan gastronomi Kota Padang lahir dari sejarah panjang interaksi budaya yang berlangsung harmonis selama bertahun-tahun.

Konsep “Padang jalan berempat” menggambarkan perpaduan empat kelompok etnis utama yang membentuk karakter kota, yaitu Minangkabau, India, Tionghoa, dan Nias. Interaksi tersebut tidak hanya menciptakan keberagaman budaya, tetapi juga menghasilkan kekayaan tradisi yang masih bertahan hingga sekarang.

Warisan budaya itu hadir dalam berbagai bentuk. Mulai dari Tari Balanse Madam dan kesenian Gamad yang berkaitan dengan komunitas Nias, atraksi Barongsai dari komunitas Tionghoa, tradisi Makan Bajamba dari masyarakat Minangkabau, hingga Serak Gulo yang berkembang dari budaya India keturunan Tamil.

Baca Juga :  Ribuan Warga Padang Ikuti Parade Tauhid 1448 H, Longmarch Penuh Takbir dari Nurul Iman ke Masjid Raya

Namun, pengaruh paling kuat terlihat pada perkembangan kuliner.

Berbagai rumah makan dan sentra kuliner di Kota Padang menunjukkan bagaimana budaya saling berinteraksi tanpa menghilangkan karakter lokal. Setiap unsur budaya ikut memperkaya rasa, teknik memasak, hingga cara penyajian.

Yenni menilai keberagaman tersebut justru memperkuat identitas masakan Padang, bukan memisahkan makanan berdasarkan asal etnis.

Ia mencontohkan pengaruh budaya Tionghoa yang melahirkan sejumlah variasi hidangan peranakan, termasuk di beberapa rumah makan yang mengadaptasi cita rasa lokal. Sementara itu, pengaruh India tampak pada penggunaan rempah yang kuat dalam sejumlah hidangan khas.

Soto Garuda, Soto Rajawali, hingga martabak Malabar menjadi contoh bagaimana jejak budaya luar melebur dalam kuliner lokal dan membentuk cita rasa khas yang kini dikenal luas.

Kekuatan rempah dan karakter bumbu yang kaya juga menjadi salah satu alasan kuliner Padang terus menarik perhatian wisatawan mancanegara.

Strategi Dorong UMKM dan Tingkatkan Pendapatan Daerah

Pemerintah Kota Padang menegaskan bahwa target menuju Kota Gastronomi bukan semata mengejar pengakuan internasional.

Lebih dari itu, langkah tersebut di siapkan sebagai strategi memperkuat sektor ekonomi kreatif, khususnya pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), sekaligus meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Baca Juga :  Pacu Jawi Sumatera Barat: Tradisi Balap Sapi di Sawah Lumpur yang Jadi Daya Tarik Wisata Budaya Minangkabau

Pemerintah meyakini promosi gastronomi dapat menciptakan efek berantai terhadap pertumbuhan ekonomi. Ketika kuliner lokal semakin di kenal, kunjungan wisata ikut meningkat dan membuka peluang usaha yang lebih besar bagi masyarakat.

Fenomena wisata berbasis makanan di nilai semakin kuat. Banyak wisatawan rela datang ke sebuah daerah untuk mencoba kuliner yang sedang menjadi perhatian publik.

Karena itu, pemerintah berharap penguatan citra Kota Gastronomi mampu memperluas pasar bagi UMKM, meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan, dan memperbesar kontribusi sektor pariwisata terhadap pendapatan daerah.

Saat ini, Pemerintah Kota Padang terus menyusun dokumen dan melengkapi tahapan administrasi untuk mengikuti proses seleksi jejaring kota kreatif.

Dari 17 kota yang masuk dalam penilaian subsektor ekonomi kreatif, hanya dua kota yang akan di ajukan mewakili Indonesia ke tingkat internasional.

Pemerintah berharap Kota Padang dapat lolos sebagai kandidat bidang gastronomi dan melangkah menuju pengakuan resmi dari UNESCO pada 2027.

Perjalanan ini menunjukkan bahwa kuliner bukan sekadar soal cita rasa. Di Kota Padang, makanan berkembang menjadi simbol persatuan lintas etnis sekaligus instrumen penting dalam mendorong ekonomi masyarakat dan memperkuat identitas daerah di panggung global.(ar)

Berita Terkait

Restoran Sederhana Singapura Resmi Dibuka, Kuliner Padang Kian Mantap Menembus Pasar Global
Pacu Jawi Sumatera Barat: Tradisi Balap Sapi di Sawah Lumpur yang Jadi Daya Tarik Wisata Budaya Minangkabau
Ribuan Pelari Meriahkan International Jam Gadang Fun Run 2026, Perayaan 100 Tahun Jam Gadang Makin Mendunia
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 17 Juni 2026 - 12:00 WIB

Restoran Sederhana Singapura Resmi Dibuka, Kuliner Padang Kian Mantap Menembus Pasar Global

Rabu, 17 Juni 2026 - 07:35 WIB

Pacu Jawi Sumatera Barat: Tradisi Balap Sapi di Sawah Lumpur yang Jadi Daya Tarik Wisata Budaya Minangkabau

Selasa, 16 Juni 2026 - 13:00 WIB

Ribuan Pelari Meriahkan International Jam Gadang Fun Run 2026, Perayaan 100 Tahun Jam Gadang Makin Mendunia

Berita Terbaru