Jakarta, jentik.id-Dokter mengingatkan masyarakat agar mewaspadai malaria knowlesi karena gejalanya mirip flu dan malaria biasa, seperti demam, menggigil, lemas, sakit kepala, hingga mual. Meski terlihat ringan di awal, penyakit ini bisa berkembang cepat menjadi kondisi serius.
Spesialis anak konsultan infeksi dan penyakit tropis IDAI, dr. Inke Nadia Diniyanti Lubis, menjelaskan bahwa parasit Plasmodium knowlesi masuk ke tubuh manusia melalui gigitan nyamuk setelah sebelumnya menginfeksi monyet. Ia menegaskan bahwa tenaga medis sering kesulitan membedakannya dari malaria biasa pada fase awal.
“Gejalanya mirip malaria, tapi perburukannya bisa lebih cepat,” ujar dr. Inke.
Ia menambahkan, jumlah parasit dalam darah dapat meningkat cepat dan memicu komplikasi berat, seperti gangguan pernapasan, gangguan ginjal, hingga penurunan kesadaran jika pasien tidak segera mendapat penanganan.
Dokter juga mengimbau masyarakat untuk waspada setelah beraktivitas di hutan atau wilayah dengan banyak nyamuk dan satwa liar. Ia menegaskan bahwa demam setelah aktivitas outdoor tidak boleh dianggap sebagai flu biasa.
Ketua Pengurus Pusat IDAI, dr. Piprim Basarah Yanuarso, meminta masyarakat segera memeriksakan diri jika mengalami demam setelah dari hutan atau kegiatan luar ruang.
“Kalau habis dari hutan lalu demam, jangan anggap flu biasa,” ujarnya.
IDAI juga menekankan bahwa masyarakat tidak perlu panik. Mereka bisa mencegah penularan dengan memakai pakaian tertutup dan menghindari gigitan nyamuk saat berada di area berisiko.
Kasus malaria knowlesi kini mulai terdeteksi di beberapa wilayah Indonesia. Perubahan lingkungan dan pembukaan hutan ikut meningkatkan risiko penularan, sehingga deteksi dini menjadi langkah penting untuk mencegah kondisi memburuk. (nr*)









